SENI MENGUBAH RASA MALAS
HARI KE 12 28 November
Hal 80-90
(1)bahagianya orang orang generalis
Saat kita sekolah di SD dan SMP, sadar atau tidak, kita sedang diajari menjadi sook generalis. Kita diajarkan berbagai nal, mulai menjadi belajar pengetahuan alam, pengetahuan sosial, olahraga, kesenian, bahasa daerah, bahasa asing, dan masin banyak lagi. Kemudian, setelah kita menginjak bangku sekolah menengah, kita baru diarahkan menjadi spesialis, melalui Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Bagi kalian yang suka ilmu farmasi, ada jurusan Farmasi.
Bagi kalian yang suka pada berbagai hal seputar produksi makanan dan minuman, ada jurusan Tata Boga. Bagi kalian yang suka pada dunia desain fesyen, ada Tata Busana, dan mash banyak lagi.
Kemudian, pengarahan menladi orang spesialis ini berlanjut di bangku kuliah, Bagi yang ingin menjadi psikolog. silakan memilih Fakultas Psikologi. Bagi yang suka pada dunia akuntansi, ada Jurusan Ekonomi. Bagi yang suka pada dunia permesinan, ada Fakultas Teknik Mesin dan mash banyak lagi.
Pernahkah kita bertanya, mengapa banyak sekali orang yang mengeluhkan susah mencari pekerjaan di negara kita ini? Jawabannya adalah, karena sejak kecil kita sudah diajar-kan menjadi generalis. Kita diajarkan multitalenta di sekolah.
Kita diajarkan bagaimana membuat grafik persamaan linear, kita diajarkan bagaimana cara mengukur skala peta, kita juga diajarkan bagaimana mengukur jarak tempuh, kita diajarkan mengukur berat badan, ideal, dan lain-lain. Semua ilmu diajarkan kepada kita, tapi dalam porsi yang sangat sedikit.
Tidak ada yang benar-benar ahli, karena semua diberikan datam porsi yang sangat kecil. Mereka yang katanya bisa ini dan itu, ternyata kemampuannya hanya sedang-sedang saja.
Ilmu, bakat, dan kemampuan mereka dalam mengerjakan berbagai hal belum matang atau belum expert.
*Hal semacam inilah yang membuat banyak orang akhirnya takut untuk bekerja. Mereka takut bekerja, karena kemampuan mereka yang benar-benar terbatas. Ketika mereka ditanyai
"Apakah Anda bisa mengoperasikan komputer?
Mereka menganggukkan kepalanya.tapi ketika ditanyain,”apakah anda bisa mengeoperasikan ma excel?”mereka menjawab dengan penuh keraguan sediki sedikit
(2) BERUNTUNG ORANG ORANG SPESIALIS
Ini belum final, kita mash harus memikirkan masala beban otak. Seseorang dengan tipe generalis memang terliha bahagia, tapi sebenarnya mereka merugi. Mereka harus mempelajari segala sesuatu, meskipun setengah-setengah.
Lantas, semua tahu bahwa hal tersebut merupakan pekerjaan yang berat, sia-sia, dan hanya buang-buang waktu saja.
Daripada mempelajari segala sesuatu dengan setengah. setengah, bukankah akan jauh lebih baik ketika kita belajar satu hal saja. Akan tetapi, kita benar-benar menguasainya.
ORANG AKAN JAUH LEBIH MENGHARGAI KETIKA KITA PAHAM BETUL TENTANG SESUATU DARI PADA
KITA TAHU TENTANG SESUATU TAPI HANYA SEBATAS TAHU SAJA
' Lalu apa kesimpulannya? Untuk bisa menerapkan malas tapi sukses, janganlah pernah mau menjadi orang generalis.
Sebab, kalian akan terus bekerja keras, mengejar kekurangan kalian, membuat pekerjaan kalian jadi benar-benar sempurna hingga atasan menjadi puas dengan hasil pekerjaan kalian. lika kalian ingin bisa menerapkan pola malas tapi sukses. jadilah orang spesialis.
ladilah orang yang malas mempelajari banyak hat. Cukup pelajarilah satu atau dua hal saja, lidak pertu semuanya.
Cukup kerjakan satu atau dua hai saja, tapi kita benar-benar menguasai pekerjaan tersebut bukankah mengejar seekor kelinci akan lebih mudah daripada mengejar dua ekor kelinci sekaligus?
(3)BERDAMAI DENGAN MALAS BERGERAK
Mager bukanlah bagian dari bahasa asing. Seperti yang kita tahu, mager merupakan akronim dari
'malas gerak. Biasanya, kata ini sering digunakan sebagai wujud penolakan terhadap ajakan dari seseorang. Misalnya, ketika ada orang yang mengajak kita buat makan siang, kita bisa menjawab,
"Nggak ah, aku lagi mager."
Saya sering kali mager. Apalagi, setelah saya merasa
lelah dari berbagai macam aktivitas, saya cenderung suka berdiam diri di kamar sambil menikmati dua ikan koki kesayangan saya berenang
di akuarium supermini,
Tidak sedikit dari teman-temansaya
yang beranggapan bahwa saya merupakan tipe orang yang tidak bisa menikmati hidup.
KITA JUGA BISA MENYEBUT BAHWA MALAS ITU ADALAH MENGERJAKAN SEDIKIT PEKERJAAN DENGAN ENERGI YANG SEMINIMAL MUNGKIN.
TES MBTI
Kepribadian “Eksekutif”
Tatanan yang bagus adalah dasar segalanya.
EDMUND BURKE
Eksekutif adalah perwakilan dari tradisi dan tatanan, memanfaatkan pemahaman mereka tentang apa yang benar, salah, dan diterima secara sosial untuk menyatukan keluarga dan masyarakat. Memegang nilai kejujuran, dedikasi dan martabat, orang dengan tipe kepribadian Eksekutif dinilai karena saran dan panduan mereka jelas, dan mereka dengan senang hati memberi jalan untuk kesulitan yang dihadapi. Memiliki kebanggaan dalam menyatukan orang-orang, Eksekutif sering kali mengambil peran sebagai pengatur komunintas, bekerja keras mengajak semua orang merayakan acara setempat yang sangat disukai, atau dalam mempertahankan nilai-nilai yang menyatukan keluarga dan masyarakat.
Siapa Saja yang Punya Keahlian Menegakkan Apa yang Mereka Yakini Benar...
Tuntutan atas kepemimpinan seperti ini tinggi dalam masyarakat demokratis, dan tipe ini mencapai tidak kurang dari 11% dalam populasi, tidak heran jika banyak pemimpin politis dan bisnis terkenal di dunia adalah tipe Eksekutif. Pengikut setia peraturan undang-undang dan kekuasaan yang harus raih. Kepribadian Eksekutif menjadi teladan, menunjukkan dedikasi dan kejujuran dengan maksud tertentu, dan penolakan yang jelas terhadap kemalasan dan kecurangan khususnya dalam pekerjaan. Jika ada yang menyatakan bahwa kerja giat dan keras adalah cara paling bagus untuk membangun karakter, maka itu adalah tipe kepribadian Eksekutif.
Eksekutif menyadari keadaan sekelilingnya dan hidup dalam dunia nyata yang jelas dan teruji – keyakinan terhadap pengetahuan mereka berarti bahwa walaupun menghadapi penentangan yang kuat, mereka tetap bepegang pada prinsip mereka dan mendorong visi yang jernih tentang apa yang diterima dan apa yang tidak. Pendapat mereka juga bukan hanya omongan kosong, karena kepribadian Eksekutif lebih dari sekadar ingin terlibat dalam proyek menantang, memperbaiki rencana tindakan dan menyortir perincian selama proses, membuat tugas yang paling kompleks menjadi terlihat mudah dan dapat didekati.
Namun demikian, Eksekutif tidak bekerja sendirian, dan mereka berharap keandalan dan etika kerja mereka harus ditiru – orang dengan tipe kepribadian ini memenuhi janji mereka, dan jika mitra atau bawahan menghambat mereka melalui inkompentensi atau kemalasan, atau yang lebih buruk, ketidakjujuran, mereka tidak segan menunjukkan kemarahan. Ini membuat mereka mendapat reputasi sebagai orang yang tidak fleksibel, tetapi bukan karena Eksekutif itu orang yang sembarangan keras kepala, tetapi karena mereka benar-benar percaya bahwa nilai ini yang membuat masyarakat berfungsi.
...Namun Masih Lebih Baik Mereka yang Mengakui Ketika Berbuat Salah
Eksekutif adalah gambaran klasik warga negara teladan: mereka membantu tetangga, menegakkan hukum, dan mencoba memastikan setiap orang berpartisipasi di masyarakat dan organisasi yang mereka sayangi.
Tantangan utama untuk orang dengan tipe kepribadian Eksekutif adalah mengakui bahwa tidak semua orang mengambil jalan yang sama atau berkontribusi dengan cara yang sama. Pemimpin sejati mengenal kekuatan individu, serta kelompok, dan membantu mewujudkan ide individu tersebut. Dengan cara itu, kepribadian Eksekutif benar-benar memiliki semua fakta, dan dapat mengemban tugas ke arah yang bermanfaat bagi semua orang.
REFLEKSI MALAM INI SEMOGA TIDUR NYENYAK AGAR BESOK BISA MELAKUKAN AKTIFITAS SEPERTI BIASA




